Perjalananku Menjadi Sahabat Perpustakaan Unimus 2026

Ada sebuah kalimat bijak yang selalu aku ingat: "Mimpi yang besar sering kali membutuhkan waktu yang lama, bukan karena Allah tidak mau mengabulkan, tapi karena Dia ingin kita siap saat menerimanya."

Malam ini, di tengah keheningan kamar yang sama, aku kembali duduk terdiam. Bahuku masih terasa berat oleh rentetan tanggung jawab, dan kepalaku masih menyisakan sisa-sisa penat dari urusan kuliah, pondok, serta organisasi. Namun, saat aku menarik napas dalam-dalam dan memeluk lelahku sendiri, sebuah kesadaran tiba-tiba mengetuk hati kecilku. Ingatanku kembali berputar ke tahun 2023. Saat itu, aku masih seorang mahasiswa baru (maba) yang lugu, yang sering menghabiskan waktu di sudut perpustakaan Unimus. Di salah satu sudut ruangan itu, sebuah mimpi kecil lahir: "Suatu saat, aku ingin menjadi bagian dari Sahabat Perpustakaan Unimus."

Namun, jalan menuju mimpi ternyata tidak pernah mudah.

Perjalanan yang Penuh Liku: 2024 & 2025

Di tahun 2024, mimpi itu sempat tersimpan rapat di laci meja belajar. Entah karena ragu atau merasa belum siap, aku memilih untuk tidak mendaftar. Aku hanya menjadi penonton, melihat orang lain berdiri di panggung itu, sambil berbisik dalam hati, “Mungkin tahun depan.”

Kesempatan itu datang di tahun 2025. Aku memberanikan diri untuk mendaftar. Proses demi proses kulewati hingga akhirnya namaku masuk sebagai finalis. Jantungku berdebar kencang, berharap ini adalah akhir yang manis. Namun, takdir berkata lain. Aku gugur di babak final pemilihan juara.

Kecewa? Wajar kalau ada sedikit rasa sedih. Tapi anehnya, rasa bangga jauh lebih mendominasi hatiku saat itu. Menjadi seorang finalis saja sudah merupakan pencapaian luar biasa bagiku yang awalnya cuma maba pemimpi. Aku belajar banyak, melihat bagaimana orang-orang hebat mempresentasikan ide mereka, dan aku pulang dengan senyuman serta sebuah janji: aku akan kembali dengan versi yang lebih baik.

Tahun 2026: Strategi, Doa, dan Takdir Allah

Tahun 2026 tiba. Aku tidak mau maju dengan modal nekat yang sama. Aku duduk, membuka catatan lama, mengevaluasi semua kekurangan di tahun lalu, dan memperbaikinya satu per satu. Tahun ini aku punya target yang jelas, planning yang lebih matang, dan persiapan yang lebih fokus.

Tapi di atas semua strategi itu, ada satu senjata rahasia yang tidak pernah kutinggalkan: doa. Aku mengetuk pintu langit lewat doa orang tua dan guru-guru yang selalu mendukungku. Aku mengusahakan apa yang bisa kuusahakan secara maksimal, lalu menyerahkan sisanya pada pemilik takdir.

Hingga tibalah hari pemilihan itu.

Jujur, saat melangkah masuk ke dalam ruangan final, hatiku sempat menciut. Aku melihat sekeliling—para finalis tahun ini keren-keren dan luar biasa semua! Di satu detik, sempat terlintas pikiran ragu di kepalaku, "Ah, rasanya aku tidak akan menang kalau saingannya sehebat ini."

Namun, manusia hanya bisa meramal, sementara Allah yang memegang kendali. Ketika namaku disebut sebagai Sahabat Perpustakaan Unimus 2026, rasanya waktu berhenti berputar. Air mata haru dan rasa syukur langsung membuncah. Ternyata, ketika Allah sudah berkehendak, tidak ada satu pun skenario manusia yang bisa menghalanginya. Alhamdulillah, ya Allah.

Memeluk Lelah dengan Rasa Syukur

Di H+7 setelah acara, malam ini semua keriuhan hari ini selesai, aku duduk terdiam di kamarku. Tubuhku rasanya lelah sekali setelah melewati proses panjang yang menguras energi dan pikiran ini.

Namun, malam ini, sambil memeluk lelahku, aku tersadar bahwa masih banyak hal yang seharusnya aku syukuri dari pada banyak mengeluh.

Rasa lelah yang kurasakan saat ini adalah "lelah yang manis". Ini adalah lelah dari sebuah jawaban atas doa-doa yang kupanjatkan sejak tahun 2023 lalu. Allah tidak hanya mengabulkan impianku, tapi Dia juga menempa mentalku lewat kegagalan di tahun-tahun sebelumnya agar aku siap memegang amanah ini sekarang.

Pesan & Harapanku ke Depan:

  • Jangan pernah menyerah pada mimpi kecilmu. Gagal sekali bukan berarti selesai. Evaluasi, perbaiki, minta doa orang tua, dan maju lagi. Allah punya waktu terbaik-Nya sendiri.

  • Semoga amanah sebagai Sahabat Perpustakaan Unimus 2026 ini bisa kujalankan dengan penuh tanggung jawab dan membawa kebermanfaatan untuk literasi di kampus.

  • Semoga aku selalu menjadi pribadi yang bersyukur dan tetap membumi, selalu ingat bagaimana rasanya berjuang dari bawah sebagai seorang maba.

Terima kasih untuk tahun 2026 yang penuh kejutan indah ini. Perjalanan baru telah dimulai! Bismillah, semangat Lum🌻

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Modal 'Gas Aja Dulu': Cerita Anak Swasta yang Nekat Satu Panggung dengan Sekolah/Univ PTN!"

"Mudik Happy Mudik Asik" | Lentera Catun

"Salahkan Jika Menjauh Demi Taat ?" | Lentera Catun