"Mudik Happy Mudik Asik" | Lentera Catun

Angin pagi membelai wajah, membawa rindu yang siap terurai di sepanjang jalan pulang. 

Bismillah... 

Libur lebaran telah tiba, waktunya apa? Yaps betul sekali balik kampung wkwk. Pertama kali mudik pakai motor dari Semarang ke Blora menjadi pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan. 

Pagi itu, langit Semarang membentang biru cerah, seolah memberi restu untuk perjalanan pertama kami bertiga. Aku, Ulva, dan Mbak Ela, yang siap menaklukkan jalan panjang menuju Blora. Ini adalah pertama kalinya kami mudik naik motor bersama , perjalanan yang penuh antusias, rasa penasaran, dan tentu saja, sedikit kekhawatiran.

“Siap, ya? Jangan ada yang ketinggalan!” seru Mbak Ela dari atas motornya. "Siap!!! Eh sebelumnya berangkat yuk kita foto dulu membuat kenangan” Aku menyeletuk mengajak mereka berfoto lalu menyalakan mesin motor, dan memulai perjalanan dengan penuh semangat.

Awal perjalanan terasa begitu menyenangkan. Angin pagi berembus lembut, membelai wajah kami di balik helm. Jalanan masih sepi, sehingga kami bisa melaju dengan kecepatan yang nyaman. Langit biru membentang luas, sesekali burung melintas di atas kepala kami. Aku dan Ulva yang satu motor saling berteriak bernyanyi dan tertawa, menikmati setiap kilometer yang kami tempuh.


Namun, seperti halnya perjalanan hidup, kebahagiaan sering kali diiringi dengan ujian. Ketika kami mulai memasuki daerah Kebunangung Kecamatan Godong, langit yang tadinya cerah mulai mendung. Angin bertiup lebih kencang, dan awan kelabu mulai menggantung rendah. Aku menoleh ke belakang, Ulva dan Mbak Ela mengangguk, kami tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Benar saja, rintik hujan mulai turun. Kecil, lalu semakin besar dan deras. “Hujan! Hujan!” teriak Mbak Ela di tengah deru angin. Kami segera menepi, berhenti di sebuah toko minuman yang tutup di pinggir jalan. Jas hujan segera kami keluarkan, meskipun sebagian tubuh sudah mulai basah.

“Kita tunggu hujan reda atau lanjut aja?” tanya Lum. Mbak Ela menatap jalanan yang mulai dipenuhi genangan air. Ulva tersenyum sambil merapatkan resleting jas hujannya. “Lanjut aja, yuk! Kita udah siap, kan?”

Aku dan Mbak Ela saling berpandangan, lalu tersenyum lebar. “Gas, lah!” seruku.

Kami segera berdiri, merapikan perlengkapan, dan menyalakan mesin motor. Hujan masih deras, tapi kami sudah siap. Jas hujan yang kami kenakan mulai mengguyur air ke arah belakang saat motor melaju pelan. Jalanan licin membuat kami harus berhati-hati, tapi semangat kami tak surut.

Suara gemericik air dari roda yang membelah genangan menjadi latar musik perjalanan kami. Angin dingin menusuk dari sela-sela jas hujan, tapi semangat kami terus membara. Sesekali Ulva berteriak, “Hati-hati polisi tidur dan jalan berlubang banyak!” Lum membalas, “Santai, aku udah pro!” Aku tertawa, merasa bahagia di tengah derasnya hujan.

Setelah hampir satu jam menembus hujan, langit mulai terang perlahan. Awan kelabu mulai menipis, dan sinar matahari perlahan muncul dari balik awan. Jalanan mulai mengering, dan hawa panas mulai terasa di kulit. Kami mulai memasuki wilayah Kecamatan Grobogan, dan dari kejauhan patung Pangeran Diponegoro yang berdiri gagah di tengah alun-alun mulai terlihat.

“Eh, panas banget nggak, sih?” teriak Ulva dari belakang. Aku mulai merasakan keringat menetes di dahi meskipun masih memakai jas hujan. Mbak Ela melambatkan motornya, dan kami berhenti di pinggir jalan dekat toko buah.

“Udah nggak hujan, ya? Panas banget ini,” keluh Lum sambil membuka resleting jas hujannya.

Ulva tertawa sambil menarik lepas jas hujannya. “Ya kali panas-panas begini masih pakai jas hujan, haha! Malu dilihat pengendara lain, dikira kita nggak tahu cuaca!”

Aku dan Mbak Ela ikut tertawa. Kami segera melepas jas hujan dan melibatkan dan memasukkan dijok motor kami. Angin panas langsung terasa di kulit, tapi rasanya jauh lebih nyaman daripada terjebak di dalam jas hujan yang lembab.

Setelah perjalanan panjang, kami akhirnya sampai di Kunduran. Di sini, perjalanan kami bertiga harus berpisah. Mbak Ela melanjutkan laju motornya ke arah Ngawen.

"Hati-hati, Mbak Ela. Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai rumah!” seru Aku dan Ulva. 

“Nah, sekarang tinggal kita berdua,” kata Ulva sambil menyenggol lenganku.

Perutku mulai berbunyi,  Aku menyeletuk sambil tersenyum lebar. “Kayaknya kita butuh isi tenaga, deh,” ujarku

Ulva tertawa. “Setuju banget! Tapi… bulan puasa, ya?”

Aku mengangguk pelan. “Tapi kita nggak puasa, kan? Hehe pas banget lagi tanggal merah bareng-bareng.”

Ulva tertawa lebar. “Yaudah, cari bakso atau mie ayam aja, yuk!”

Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung kecil yang terlihat ramai. Tulisan besar di papan kayu di depan warung itu langsung menarik perhatian kami: “Bakso & Mie Ayam Spesial.”

Kami masuk dan langsung memesan semangkuk bakso dan mie ayam. Udara di dalam warung terasa sejuk, dan aroma kaldu yang gurih langsung menggoda selera. Tak lama kemudian, bakso dan mie ayam disajikan di meja.

“Wah, ini sih enak banget!” seru Ulva sambil menyeruput kuah baksonya.

Aku tertawa, mencicipi mie ayam yang kenyal dengan tambahan sambal dan kecap. “Gaspol! Kita pantas dapat hadiah setelah perjalanan panjang ini!”

Ulva tertawa. “Setuju! Mudik kali ini emang komplit; hujan, panas, dan bakso enak!”

Setelah kenyang, kami kembali ke motor, merasa segar dan penuh energi. Perjalanan menuju Blora terasa jauh lebih ringan setelah perut terisi. Angin sore menyambut kami dengan lembut, seolah memberi selamat karena kami telah berhasil melewati semua rintangan.

“Udah siap, Va?” tanyaku sambil mengenakan helm.

“Siap!” jawab Ulva penuh semangat.

Kami menyalakan mesin motor dan mulai melaju kembali ke arah rumah. 

“Kita berhasil,” gumam Ulva. Aku tersenyum. “Mudik happy, mudik asik,” kataku pelan. Kami berdua saling menatap dan tertawa. Perjalanan ini mungkin penuh tantangan. Hujan, jalanan licin, dan dingin yang menusuk, tapi kebersamaan yang kami rasakan membuat semua itu menjadi bagian indah dari cerita perjalanan kami.

Mudik kali ini bukan sekadar tentang pulang ke kampung halaman, tapi tentang menemukan makna dalam setiap tetes hujan, setiap putaran roda, dan setiap tawa yang kami bagi di sepanjang jalan.

Perjalanan ini mungkin telah usai, tapi kenangan tentang tawa di tengah hujan, panasnya mentari yang menyapa, dan semangkuk bakso yang menghangatkan jiwa akan selalu tertanam di hati. Karena mudik bukan sekadar pulang, tapi tentang menemukan makna di setiap jejak roda yang tertinggal di jalanan.

Terimakasih sudah membaca cerita mudik kami, 

Selamat berlibur dan taqaballahu minna wa minkum, buat kalian yang sudah mudik nitip salam buat keluarga dirumah. 

Happy Fasting and Happy Eid Mubarak Everyone !🙌✨


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Modal 'Gas Aja Dulu': Cerita Anak Swasta yang Nekat Satu Panggung dengan Sekolah/Univ PTN!"

"Salahkan Jika Menjauh Demi Taat ?" | Lentera Catun