Belajar Memeluk Lelahku

Malam ini begitu sunyi. Jam di dinding berdetak konstan, memecah keheningan kamar yang terasa lebih dingin dari biasanya. Aku terbangun dari tidurku. Bukan karena suara bising di luar, melainkan karena riuhnya pikiran di dalam kepala yang mendesak untuk diberi ruang.

Aku berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Dalam kepungan sepi itu, hanya ada satu hal yang menggelayuti benakku: Ya Allah, aku capek…

Rasa lelah yang teramat sangat. Bukan jenis lelah yang bisa hilang hanya dengan tidur delapan jam. Ini adalah lelah yang mengendap di pundak, yang lahir dari rentetan peran yang kupeluk erat setiap hari. Kalimat itu terucap begitu saja malam ini, menyelinap di antara tumpukan tugas kuliah semester 6 yang seolah tidak ada habisnya. Aku menatap layar laptop, lalu beralih ke deretan grup WhatsApp yang ku balas malam itu.

Di langit-langit kamar itu, sebuah pertanyaan besar tiba-tiba muncul dan menuntut jawaban: “Sebenarnya, apa yang sedang aku kejar?”

Riuh di Kepala, Riuh di Dada

Kalau boleh jujur pada diri sendiri, peranku saat ini banyak sekali. Di kampus, aku adalah mahasiswa semester 6 yang dikejar deadline tugas dan menuju ke tugas akhir (skripsi) . Di pondok,sebagai musyrifah yang harus tetap tegar dan membimbing. Di tempat lain, aku adalah mentor dan guru les yang harus selalu punya energi untuk mengajar dan memotivasi orang lain.

Belum lagi di organisasi. Memegang amanah sebagai sekretaris di 2-3 tempat sekaligus, menjadi bendahara yang memutar otak, ditambah menjadi anggota aktif di 3 organisasi lainnya. Aku merasa seperti sedang melakukan juggling dengan terlalu banyak bola di udara. Satu saja lengah, rasanya semua akan berantakan. Capek mikir, bingung mana tugas yang harus didahulukan.

Lelahnya bukan cuma fisik, tapi juga pikiran. Dan lucunya, di usia 20 tahun ini, semua tanggung jawab yang "dewasa" itu harus bercampur baur dengan fase yang orang-orang sebut butterfly era, huhu.

Fase di mana perasaan bisa tiba-tiba melambung tinggi, lalu jatuh berantakan di hari berikutnya. Fase di mana hati ini gampang sekali baper, sensitif, dan penuh tanya tentang masa depan. Menyeimbangkan logika organisasi dengan perasaan yang sedang bertumbuh di usia 20-an ini ternyata adalah seni yang paling sulit yang pernah kupelajari.

Memperbolehkan Diri untuk Lelah

Maka malam ini, di atas sajadah, aku memilih menyerah pada ego. Aku mulai menceritakan semuanya kepada Allah. Menumpahkan setiap jengkal sesak yang tak sanggup kubagi dengan manusia lain. Aku mengadu tentang tugasku yang menumpuk, tentang amanah yang rasanya semakin berat, dan tentang hatiku yang belakangan ini gampang sekali goyah. Kepada-Nya, aku mengaku kalah bahwa aku hanyalah hamba yang ringkih.

Malam ini, lewat tulisan ini, aku tidak ingin berpura-pura kuat. Aku ingin mengakui satu hal: Aku lelah, dan itu valid.

Menjadi produktif bukan berarti mengunci rapat-rapat rasa lelah. Menjadi pemimpin, mentor, atau pengajar bukan berarti aku tidak boleh mengeluh di sudut kamar saat suasananya terlalu bising. Aku bukan robot. Aku adalah perempuan berusia 20 tahun yang sedang belajar mengepakkan sayap di tengah badai.

Menuliskan semua ini di sepertiga malam ternyata seperti menyalakan lilin kecil di dalam ruang gelap kepalaku. Perlahan, sesak di dada mulai terurai. Pertanyaan tentang "apa yang aku kejar?" mungkin belum terjawab tuntas malam ini, tapi setidaknya aku sadar satu hal: aku tidak sedang berlari sendirian.

Setiap peran yang kupeluk saat ini bukanlah beban yang hadir untuk menghancurkanku. Semua ini adalah cara Allah membentukku. Aku sedang ditempa menjadi versi diriku yang paling tangguh. Lelah itu manusiawi, tapi menyerah bukan pilihan bagi jiwa yang sudah melangkah sejauh ini.

Harapanku di Usia 20

Harapanku tidak muluk-muluk. Aku tidak meminta semua tugasku selesai secara ajaib besok pagi. Aku hanya berharap:

  • Semoga Allah selalu melapangkan dadaku dan menguatkan pundakku untuk memeluk setiap amanah yang ada.

  • Semoga di tengah riuhnya butterfly era dan emosi usia 20 tahun yang pasang surut, hatiku tetap memiliki jangkar yang kuat untuk pulang.

  • Semoga aku bisa belajar untuk lebih bijak pada diri sendiri; tahu kapan harus berlari kencang, dan tahu kapan harus duduk sebentar untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Tugas-tugas itu akan selesai satu per satu pasti selesai, seperti semester-semester sebelumnya yang berhasil kulewati. Amanah organisasi, les, dan pondok akan menemukan jalan keluarnya. Perlahan akan mendewasa pada waktunya.

Untuk kamu yang mungkin membaca tulisan ini dan sedang merasakan lelah yang sama di fase usia 20-an: mari kita ambil napas dalam-dalam. Kita adalah manusia-manusia hebat yang sedang bertumbuh. Jangan biarkan lelah hari ini mengaburkan fakta bahwa kita sudah berhasil melewati banyak hari berat sebelumnya.

Malam semakin larut, dan duniaku perlahan kembali tenang. Besok, alarm akan kembali berbunyi, tugas-tugas baru akan mengantre, dan rentetan tanggung jawab telah menanti di depan pintu. Namun, aku akan menyambutnya dengan senyuman yang berbeda. Bukan karena aku berpura-pura kuat, tapi karena aku tahu, setelah malam sesunyi ini, Allah selalu menyiapkan fajar yang baru.

Terima kasih untuk malam ini, ya Allah. Terima kasih sudah mengizinkanku bercerita lewat tulisan ini.

Mari beristirahat, esok kita berjuang lagi dengan hati yang lebih lapang. Kamu sudah berusaha dengan sangat baik, diriku.-lum catun🌻

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Modal 'Gas Aja Dulu': Cerita Anak Swasta yang Nekat Satu Panggung dengan Sekolah/Univ PTN!"

"Mudik Happy Mudik Asik" | Lentera Catun

"Salahkan Jika Menjauh Demi Taat ?" | Lentera Catun